Redaksi IPMAFA – Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Pati terus memperluas kiprah akademiknya di tingkat internasional. Jejaring keilmuan berbasis pesantren yang dikembangkan IPMAFA kini hadir dalam forum akademik di Asia Tengah melalui partisipasi aktif dalam International Seminar yang digelar di Tashkent, Uzbekistan, Selasa(06/10/2026).
Dalam forum bertema “Revitalizing Islamic Heritage: Theological Identity, Spiritual Moderation, and Ecological Practice in the Contemporary Muslim World” tersebut, Dr. Sahal Mahfudh, dosen IPMAFA, tampil sebagai Honored Speaker dan mempresentasikan hasil risetnya tentang relasi antara linguistik Arab, variasi qira’at, dan argumentasi teologis dalam karya Imam Abu Mansur Al-Māturīdī.

Seminar internasional yang berlangsung secara langsung itu dipusatkan di Hall of the Imam Maturidi International Scientific Research Center, Tashkent, ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara IPMAFA, LPTNU PBNU, UNUSIA Jakarta, UNU Yogyakarta, dan UNUGIRI Bojonegoro bersama Imam Maturidi International Scientific Research Center serta International Islamic Academy of Uzbekistan.
Keterlibatan IPMAFA dalam forum tersebut menandai semakin terbukanya ruang dialog akademik antara tradisi keilmuan pesantren di Indonesia dan pusat-pusat kajian Islam di Asia Tengah.
A. Mengungkap Fungsi Linguistik dalam Tafsir Al-Māturīdī
Dalam presentasinya yang berjudul “From Linguistic Variation to Argument: The Morpho-Syntactic Impact of Variant Readings in al-Māturīdī’s Ta’wīlāt al-Qur’ān”, Dr. Sahal Mahfudh mengkaji bagaimana perbedaan qira’at dalam Ta’wīlāt al-Qur’ān tidak berhenti sebagai variasi pembacaan teks, tetapi dapat bertransformasi menjadi instrumen argumentasi keagamaan.
Melalui kajian terhadap aspek nahwu dan sharf, penelitian tersebut menunjukkan bahwa struktur kebahasaan memiliki posisi penting dalam proses istidlal Al-Māturīdī. Perubahan bentuk kata, struktur sintaksis, maupun karakteristik bacaan tertentu dapat memberikan konsekuensi terhadap penafsiran dan argumentasi yang dibangun.
Dr. Sahal secara khusus menunjukkan penerapan variasi qira’at dalam dua ranah utama.
Pertama, ranah akidah. Variasi bacaan digunakan Al-Māturīdī untuk menganalisis struktur makna sekaligus membangun argumentasi teologis, termasuk dalam menjawab pandangan kelompok-kelompok teologi yang berbeda. Analisis terhadap posisi fa’il dan maf’ul, perubahan bentuk kata, serta fenomena takhfif dan tasydid menjadi bagian penting dalam konstruksi argumentasi tersebut.
Kedua, ranah fikih. Perbedaan qira’at juga memiliki implikasi terhadap pemahaman hukum syariat. Melalui analisis linguistik terhadap variasi bacaan, Al-Māturīdī menunjukkan bagaimana aspek kebahasaan dapat berkontribusi dalam menentukan konsekuensi hukum, termasuk dalam membedakan antara kewajiban dan anjuran.
Penelitian tersebut juga menyoroti posisi Al-Māturīdī terhadap sejumlah bacaan yang dinisbatkan kepada para sahabat (Huruf al-Shahabah). Dalam pembahasannya, Al-Māturīdī memberikan perhatian serius terhadap otoritas bacaan tersebut dan kaitannya dengan praktik hukum syariat.
“Penelitian ini menunjukkan bahwa linguistik dalam tradisi tafsir Al-Māturīdī bukan sekadar perangkat untuk menjelaskan bahasa Al-Qur’an, tetapi juga menjadi bagian dari proses membangun argumentasi keagamaan,” terang Dr. Sahal dalam presentasi yang disampaikan dalam bahasa Arab.
B. Dari Pesantren ke Panggung Akademik Global
Selain Dr. Sahal Mahfudh, forum internasional tersebut menghadirkan sejumlah akademisi dari perguruan tinggi Nahdlatul Ulama di Indonesia.
Dr. Nur Hidayah, Lc., M.A. dari UNU Yogyakarta mengkaji konstruksi identitas teologis dalam Kitab At-Tawhid. Sementara itu, Dr. Yogi Prana Izza dari UNUGIRI Bojonegoro memaparkan rekonstruksi moderasi spiritual berbasis etika tasawuf Al-Muhasibi. Adapun Mohammad Hasan Basri, MA, Ph.D. dari UNUSIA Jakarta mengangkat isu “Green Islam” dan praktik pelestarian lingkungan dalam konteks Indonesia dan Uzbekistan.
Kehadiran para akademisi dari Indonesia dalam forum tersebut memperlihatkan terbentuknya ruang dialog baru antara tradisi intelektual Islam Nusantara dan perkembangan kajian Islam kontemporer di Asia Tengah.

Bagi IPMAFA, keterlibatan ini tidak hanya menjadi kesempatan untuk mempresentasikan hasil penelitian, tetapi juga bagian dari upaya memperluas jejaring akademik internasional. Tradisi keilmuan pesantren yang menjadi karakter utama IPMAFA dipertemukan dengan pusat-pusat penelitian Islam di kawasan yang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan pemikiran Islam, termasuk tradisi Maturidiyah.
Keterlibatan IPMAFA dalam forum di Tashkent sekaligus membuka peluang pengembangan kerja sama yang lebih luas, terutama dalam bidang riset, publikasi ilmiah, pertukaran akademik, pendidikan bahasa Arab, serta kajian manuskrip dan khazanah intelektual Islam.
Langkah ini menjadi bagian dari ikhtiar IPMAFA untuk membawa tradisi akademik pesantren tidak hanya tumbuh di tingkat nasional, tetapi juga hadir dan berkontribusi dalam percakapan keilmuan Islam di tingkat global.






