ID EN AR

Menantang Badai di Tanah Pati: Jejak Sejarah Rakyat yang Pantang Digertak

Isyrokh Fuaidi, LL.M

Oleh: Isyrokh Fuaidi, LL.M

Beberapa peristiwa ramai dalam negeri yang muncul dari Kabupaten Pati Jawa Tengah menarik untuk dilihat secara politik-historis terkait karakter masyaakat Pati sebenarnya. Pergolakan di beberapa tahun terakhir di Pati diwarnai dengan pestiwa positif dan negatif yang menjadi perhatian nasional seperti pembakaran dan pengeroyokan bos rental di Sukolilo (2024), demonstrasi kenaikan PBB-P2, dan pelengseran Bupati Pati yang mendapat perhatian tidak hanya oleh media nasional tapi juga internasional (2025).

Di tahun 2026 juga terjadi pergolakan dan protes terus menerus terhadap sejumlah pejabat yang dianggap merugikan masyarakat seperti seperti terhadap Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Pati, Hari Wibowo yang hanya menjabat sekitar tiga bulan di Pati yang kemudian dimutasi ke Kejaksaan Agung. Teranyar, demonstrasi penuntutan pengesahan RUU perampasan aset dan hukuman mati terhadap koruptor yang berlangsung pada 27 Agustus 2026 di Jakarta dan memperoleh banyak dukungan dari masyarakat dari berbagai wilayah di Indonesia.

Dari beberapa peristiwa ini dapat disimpulkan bahwa mengintimidasi masyarakat Pati dapat disebut sebagai sebuah kekeliruan fatal dalam membaca sejarah. Karakter sosiologis masyarakat pesisir utara Jawa ini membuktikan satu hal: semakin ditekan dan diintimidasi, keberanian mereka justru kian berkobar. Realitas ini ternyata tidak mengherankan jika dikaitkan dengan peristiwa sejarah beberapa abad yang silam. Tanah Pati memiliki riwayat panjang yang membuat gemetar lutut para penguasa hingga penjajah yang mencoba memaksakan kebijakannya.

Kekuatan penguasa dan pemerintahan sebesar apa pun terbukti kerap membentur dinding tebal di Bumi Mina Tani, terlepas apakah di akhir peristiwa dimenangkan oleh masyarakat Pati. Mataram Islam abad 17 di masa puncak kejayaannya, di bawah Panembahan Senopati hingga Sultan Agung, merasakan betul betapa gigihnya perlawanan Kadipaten Pati. Supremasi militer dan hegemoni politik pusat saat itu hanya dianggap angin lalu dan ini menjadi memori kolektif rakyat Pati yang dirawat turun-temurun melalui kisah keteguhan para leluhur dan ulamanya.:

Pahlawan-Pahlawan Simbol Keteguhan Harga Diri.

Dalam penuturan lisan para tetua, sang adipati bertarung habis-habisan melawan dominasi Mataram. Bahkan ketika luka parah akibat tombak pusaka Kyai Baru merobek tubuhnya, ia tetap berdiri tegak di garis depan, menahan luka dengan tangan kirinya seraya terus mengayunkan senjata tanpa rasa takut sedikit pun. Pembangkangan Pragola II yang menolak menghadiri Pisowanan Agung dan mengaggap Pati setara dengan Mataram dipandang sebagai aksi pemberontakan dan memaksa Mataram melakuan penyerbuan besar ke wilayah Pati pada 1627. Meski tewas dan kalah di tangan Sultan Agung Mataram, Adipati Pragola Pati II tetap menjadi pahlawan yang melekat di benak masyarakat Pati dan makamnya terawat baik di Dukuh Sani, Desa Tamansari Kecamatan Tlogowungu Pati.

Selain Adipati Pragola, terdapat kisah Kyai Ondorante atau Ki Roro Mangun Harjo, figur legendaris dari Pati Selatan yang terkenal sakti dan kontra dengan proses Islamisasi di wilayahnya. Setiap ancaman dan tekanan penguasa, baik dari penguasa Kadipaten Pati sendiri atau Mataram justru melipatgandakan amarah perlawanannya. Setelah menelan rentetan kekalahan di medan laga terbuka, Mataram terpaksa memakai jalan komunikasi melalui Sunan Makhdum untuk menundukkannya dan berakhir dengan unjuk kekuatan dengan hasil tidak ada yang kalah atau menang dari keduanya. Meski ini sekedar tutur masyarakat yang bergulir secara turun-temurun dan keduanya menjadi pahlawan yang diagungkan, kisanya telah membentuk pandangan masyarakat dan menjadi bukti bahwa Ondorante adalah simbol pembangkangan politik terhadap kekuasaan.

Selanjutnya adalah fakta sejara di era penjajahan terdapat KH. Mahfudh Salam (Kajen) yang membuktikan bahwa nyali wong Pati tidak pernah padam hingga era kolonial. Ulama karismatik asal Kajen sekaligus ayah dari KH. MA. Sahal Mahfudh ini menjadi buronan utama karena sikap non-kooperatif dan penentangannya terhadap penjajah Belanda. Ketika para sesepuh dan santri ditangkap sebagai umpan, beliau pantang bersembunyi dan memilih berhadapan langsung hingga akhirnya ditawan dan syahid di balik jeruji besi atau dalam tutur masyarakat lain ditembak mati oleh penjajah di Ambarawa. Jiwa pantang tunduk ini menjadi bukti bahwa masyarakat Pati dari kalangan santri juga menunjukkan perlawanan dan pendirian yang tidak bisa dibeli.

Peringatan Bagi Para Penguasa

Peristiwa sejarah tentu semestinya menjadi pelajaran berharga bagi siapa saja, khususnya pemerintahan yang berkuasa untuk dapat bersikap bijak demi kemajuan bangsa ini. Tidak semua masyarakat dapat dibeli, tidak semua kebijakan yang merugikan rakyat dapat bergitu saja diterapkan tanpa memperhatikan kondisi sosial masyarakatnya, tidak semua tindakan ngawur pemerintah akan mudah ditoleransi, dan tidak semua masyarakat akan mudah dibohongi, khususnya masyarakat Kabupaten Pati. Dinamika masyarakat seperti ini selayaknya menjadi pertimbangan untuk berperilaku buruk atau menerapkan kebijakan yang menindas dan menebar ancaman kepada rakyat Pati karena dipastikan hal tersebut adalah salah perhitungan dan tidak peka dengan peristiwa sejarah. Di beberapa titik komunitas atau masyarakat di Indonesia, ternyata masih ada yang memiliki mentalitas wani getih demi mempertahankan ruang hidup dan martabat yang telah mengakar dalam DNA kultural masyarakatnya!

Writer: Isyrokh Fuaidi, LL.M
Hubungi Kami